Senin, 08 Juli 2013

Bagaimana Tuna Netra Memanfaatkan Internet?

Bagaimana Tuna Netra Memanfaatkan Internet?

 
Sebagai penyedia informasi, internet sudah dirasakan banyak orang termasuk juga kaum tuna netra. Meski masih banyak kendala, kini mereka pun sudah bisa 'melihat' dunia.

Bambang Basuki, pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Mita Netra, sebuah yayasan nirlaba yang mengedukasi kaum tuna netra menceritakan cara menjelajah internet bagi penyandang tuna netra. Seperti dimuat oleh viva, kisahnya sungguh menarik dan membantu kita mengerti bahwa siapa pun berhak menikmati pengetahuan dan kemajuan teknologi.
 

 
"Yang dulu tidak bisa dilakukan, sekarang jadi bisa," ucap Bambang tentang manfaat internet. "Orang tuna netra kan nggak bisa baca koran, surat. Nah, dengan e-mail jadi bisa baca, dan lebih privat."

Bagaimana cara mereka memanfaatkan internet? Ada dua alat bantu agar bisa mengakses komputer yakni:

1. Screen reader

Screen reader atau pembaca layar, alat ini berfungsi membacakan semua objek yang ada di layar. Namun, alat ini tergolong mahal, harganya Rp12 juta-an.

"Tapi, kami sekarang ada software pembaca layar gratis. Namanya NVDA. Jadi, kami manfaatkan itu," tuturnya.

2. Braile display

Cara ini menurutnya tidak begitu fleksibel, kecuali bagi tuna netra yang ingin mendalami pengetahuan yang spesifik, misalnya matematika.

Dalam menjelajahi komputer, tuna netra tidak menggunakan mouse, tapi keyboard, sehingga untuk tingkat awal mereka harus kursus khusus.

"Soal akses, kami lelah kalau harus bertemu objek grafik. Apalagi, saat baca portal berita, di mana kami harus mengikuti secara detail arahan screen reader, tidak bisa melompat," kata Bambang.

Padahal, menurut ketentuan Standard Web Accesibility, portal harus bisa lebih ramah dengan tuna netra.

Berkaitan dengan hal itu, pihaknya saat ini sedang memperjuangkan ketersediaan standar Web tersebut.

Kisah Mitra Netra

Meski menyandang cacat, Bambang boleh dibilang tidak gaptek. Pada tahun 1992, saat Internet belum populer, ia sudah tergerak mengembangkan pendidikan Internet tuna netra.

"Saat itu, yang ramai digunakan masih Lotus. Ya, susah sekali, apalagi masih dianggap langka ketika itu," kisah Bambang.

Tapi, dengan gigih dan dukungan perkembangan teknologi, upaya pendidikan Internet tuna netra sedikit demi sedikit semakin terbantu.


"Sebenarnya, produk Apple mendukung tuna netra, tapi harga perangkatnya cukup mahal. Sebab itu, kami gunakan perangkat lain, apa saja, ya termasuk Windows," imbuhnya.

Berkat kegigihanya, minat belajar komputer dan Internet kian tinggi di kalangan tuna netra. Bambang mengaku, Yayasan Mitra Netra tiap tahun mendidik tuna netra dari usia pendidikan dasar sampai perguruan tinggi.
"Kalau di Jakarta, tiap tahun kami melayani 80-100 tuna netra," katanya.

Kini, orang tuna netra hampir bisa melakukan semua aktivitas seperti orang normal, tak terkecuali presentasi menggunakan Powerpoint. Bahkan, beberapa tuna netra didikan lembaga ini ada yang bisa menjalankan bisnis online.

"Sangat membantu. Ada yang bisnis penyedia peralatan tuna netra dengan pemesan dari pasar internasional," ungkapnya. Beberapa tuna netra bahkan telah mampu membuat situs khusus untuk tuna netra.

Vespa Menjadi Alat Musik Unik

Vespa Menjadi Alat Musik Unik - Vespa di Indonesia bagaikan musik dangdut. Berakar dari luar lalu mengalami metamorfosa dan melahirkan budaya baru, jauh dari citra awal. Penandanya hanya satu, merek yang mengingatkan orang pada negara asal, Italia.

Beberapa media ternama asing pernah mengangkat keunikan komunitas vespa gembel di Indonesia. Dengan modifikasi nan ekstrim, menanggalkan gaya pabrikan negeri asal lalu dipermak habis sesuai imajinasi sang empunya. Hasilnya mungkin mengingatkan pada gaya 'amburadul' film Mad Max, namun memunculkan potret budaya yang baru, yang lebih khas dari negeri sendiri.

 
Pemanfaatan vespa sebagai legitimasi sebuah kreatifitas sekaligus jati diri budaya baru memang tak ada habisnya. Tidak terbatas pada modifikasi untuk dikendarai, tapi juga menciptakan hal baru dari setiap onderdilnya. Hasilnya sangat unik: instrumen musik vespa.

Adalah Iwan Loncenk yang memelopori musik rongsokan onderdil motor Vespa ini. Grup 282 Black Percussion Scooter ini lahir 31 Desember 2010, di Padepokan Seni Kota Bandung, Jln. Peta 209. Nama ini diambil dari sebuah nama sanggar K282 (Kelompok 282) bekerja sama dengan Black Scooters.

Abah Richard, pentolan Black Scooter Bandung yang menyambut dan membantu mewujudkan ide Iwan memanfaatkan onderdil bekas vespa yang menumpuk agar dijadikan bermacam alat musik.


"Saat itu hanya berupa tatakolan (Vespavora). Kemudian dari hari kehari, dari minggu keminggu, dari bulan kebulan, saya mencoba untuk menyempurnakan suku cadang Vespa untuk bisa bernada, baik diatonis maupun pentatonis. Dengan semangat hobi akhirnya saya menemukan 23 item dari suku cadang Vespa menjadi alat musik," ungkap Iwan Loncenk.

Kini Iwan berhasil membuat berbagai alat musik unik. Misalnya flute (alat tiup) terbuat dari keran bensin vespa tahun 62,  doom trompet (alat tiup) terbuat dari knalpot Chito, menjadikan suara sangkakala (terompet kematian), guitar (gitar elektrik) dari 1/2 mesin Vespa, Ba'n'ss (bass elektrik) terbuat dari pelak dan ban ukuran 10, vioul tank (alat gesek) dari tanki Vespa, lute siter tank (alat petik) kacapi siter dari tangki Vespa, dan lain sebagainya.

Kelompok musik 282 tersebut kemudian sering  pentas di berbagai acara di Bandung. Mungkin ada di antara kamu yang pernah melihat aksi mereka di panggung?